Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts


Di tengah kidung angin pada sepertiga malam, tak pernah lekang dari ingatanku, tatkala di atas sepasang bangku itu, dia mulai menyulam helaian-helaian kisah untukku perihal ayah yang semasa hidupnya begitu bertanggung jawab dan pemberani. Dan juga dia yang gemar mendongeng tentang Maling Kundang yang dikutuk oleh ibunya karena kedurhakaanya ataupun tentang si kancil yang cerdik. Semuanya masih segar di ingatanku, sekalipun dia telah ceritakan itu 15 tahun yang silam. Ketika ku masih acapkali berpura-pura sakit tak ingin ikut belajar. Ketika ku masih sering bertelanjang kaki menenteng sandal jepit di atas tanah-tanah becek bekas hujan yang semuanya ku lakukan karena ingin datang ke suatu tempat yang akhirnya ku ketahui bernama sekolah.

Dan malam itu, kami kembali bercengkerama di atas sepasang bangku, di depan sebuah meja kayu yang rapuh termakan rayap. Seperti biasa, dia tak lupa menyuguhkan teh hangat dan beberapa potong singkong untuk kami nikmati bersama, bernostalgia di depan perapian-perapian kecil dengan kepulan asap hitam membumbung, meliuk-liuk dan lenyap membaur dengan hitamnya malam.

Ternyata bangku-bangku itu masih sama seperti dulu. Barang satu-satunya peninggalan ayah yang telah begitu banyak mendengar cerita anak manusia di dalam gubuk-gubuk reyot bersekat anyaman daun nyiur, yang tingginya tak cukup semeter dari permukaan tanah. 

Di kala ia mulai bercerita, aku selalu menggenggam tangannya yang kasar, menyusuri tiap ruas permukaan kulitnya yang semakin kusam dan tipis termakan usia. Inilah ritual-ritual sederhana yang sering kami lakukan di penghujung malam. Di bawah desir angin yang membelai dedaunan kenari di atas gubuk kami. Sementara binatang-binatang di luar sana, pun turut diam terlarut dalam ritual itu.

Selengkapnya......
November 23, 2009 Posted in | | 6 Comments »

Siang yang indah. Seindah perasaan Sani sore itu. Semua tergambar jelas dari binar matanya yang bening bulat selaksa bola pingpon. Dikelurkanya hape dari saku celana jeansnya. Mengutak-atik inbox messagenya dan sesekali tersenyum sumringah. Belasan SMS dari seseorang misterius membuatnya hidup di tengah rasa penasaran beberapa hari terakhir ini.

“namaku Ilman, Muhammad Ilman”

Orang itu memperkenalkan dirinya melalui SMS pada suatu malam. Dia adalah teman Sani di dunia maya. Mereka sempat beberapa kali chating dan SMSan sebelum akhirnya dia mengajak Sani ketemuan hari ini. Sani tak juga menolak karena ini merupakan kali pertama dia akan ngopi darat dengan teman dunia mayanya setelah tiga bulan yang lalu dia memutuskan untuk bergabung di Facebook, jejaring sosial terbesar dan terpopuler di dunia saat ini.

Selain itu, di pikiran Sani, Ilman adalah sosok pria yang baik, garing ditemani bercanda, nyambung diajak diskusi, tidak neko-neko dan tidak pernah menunjukkan tabiat yang mencurigakan. Semuanya terpadu dan melebur menjadi satu dalam diri Ilman yang Sani kenal, yang membuatnya dengan mantap dan tanpa ragu menerima mengiyakan ajakan lelaki misterius itu.

Selengkapnya......
Posted in | | 0 Comments »


Si Badrun pagi ini bahagia tidak terkira. Bak ketiban durian runtuh lengkap dengan pohonnya, Dia berjalan setengah berlari-lari masuk ke ruang kuliah. Tingkahnya persis banget dengan keponakanku yang masih berumur 3 tahun yang meloncat-loncat kegirangan ketika di cium oleh seorang suster cantik di rumah sakit waktu ibunya ngelahirin adiknya.

“Eh…gendut, lo kenapa sih. Aneh banget hari ini ? Loncat-loncat nggak jelas. Kaya pocong kesiangan, taukkk…!!” teriakku ke arah manusia item di depanku.

“Hihihih….galak banget. Eh…eh…tau nggak…?

“ngga tau, khan belum ngomong apa-apa dari tadi, cuma nyengir aja kaya kuda pacuan habis dibeliin tapal baru..”

“yeee…makanya dengerin dulu. Gue mau curhat nih”


 “curhat ?? cieeee….kayak cewe habis diputusin aj, sarapannya pake curhat.”

“beneran deh,,aku mo cerita sesuatu yang seru ke lo. Lebih seru dibandingin cerita lo yang nyemplung ke got karena keasyikan SMS sambil jalan kaki malam-malam di tengah mati lampu.”

“ya dah..cerita apaan. Siapa tau aja bisa ngembangin jaringan gue dalam bisnis MLM.”

“Aku habis jatuh, sob…” katanya singkat dengan ekpresi wajah yang dibuat-buat mirip si Farel di Sinetron Cinta Fitri season Ramadhan. Bedanya karena si Badrun hitam dan gendut. Coba agak kurusan dikit dan putih. Pasti akan langsung lolos casting season Kiamat..

“Habis nyemplung di got juga ya. Tuh, makanya kalau mau ke kampus pagi-pagi,,mandi dulu donk, supaya Tuhan ngga mandiin kamu di got,hehehe…pisss….!!!.”

“Hufffttt…..gubraaakkkk….!!”

“hehehe….pasti lagi jatuh cintrong yagh.

“kok tau meong….!”

 “Hidungmu yang ngomong kaya gitu, Hidung memang ngga bisa boong. Sama siapa ? pasti sama si Maemunah yang pondokannya bersebelahan ma penjual pisang moleng itu, ya kan..!!” aku mengira-ngira dan sok tau.

“Bukan sob, aku ngga tau anak mana. Kami berpapasan di lantai dasar perpus pusat tadi pagi dan sampe sekarang bayangannya masih utuh tersave di hardisk otakku...”

“Trus…trus…lo ngga nanya dia anak mana ? atau paling tidak minta nomor hengpongnya gitu”

Selengkapnya......
October 31, 2009 Posted in | | 1 Comments »